Berita Tri Dharma

HUMAS UMPAR

30-09-2020 HUMAS UMPAR

DARING, KULIAH TAMU FIKES UMPAR HADIRKAN PAKAR KESEHATAN DARI QATAR SEBAGAI KEYNOTE SPEAKER

Masih tingginya angka terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulawesi Selatan pada Khususnya dan Indonesia pada umumnya, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Parepare mengundang salah satu pakar kesehatan yang saat ini menetap di Qatar yaitu Dr. dr Iqbal Mochtar, MPH, MOHs, DipICard, DoccMed untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa FIKES.

Kegiatan dibuka oleh Dekan FIKES UMPAR (Haniarti, S.Si, Apt, M. Kes) dan turut hadir Rektor UMPAR (H.M Nasir S) memberikan sambutan. Untuk moderator oleh Wakil Dekan I FIKES (Usman, SKM, M. Kes). Kegiatan ini berlangsung via zoom & Live Streaming di Channel Youtube FIKES UMPAR. Adapun Peserta berasal dari Pimpinan Fakultas, Prodi, Dosen dan Mahasiswa, Pengurus Aisyiyah Kota Parepare, Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia, Parepare, Dharma Wanita Kota Parepare, Masyarakat Umum.

Dr. Iqbal memberikan kuliah tamu tentang “Optimisme Menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Pandemi Covid-19”. Kegiatan ini diadakan secara virtual pada Hari Selasa (29 September 2020). Saat ini beliau aktif menjadi Medical Officer di National Oil and Gas Industry, Qatar. Mengawali perkuliahan dengan memaparkan 3 faktor yang berpengaruh terjadinya covid-19 atau disebut Epidemiological Triad yaitu Agent, Host dan Environmental.

Untuk Agent pada Covid-19 yaitu virus apa yang menyebabkan, angka pertambahan kasus tanpa adanya intervensi, kadar intervensi dan kadar distribusi. Lalu untuk Host : bagaimana sistem imun kita, bagaimana aktivitas, istirahat dan vitamin. Faktor selanjutnya adalah environment: bagaimana lingkungan, suhu, tekanan, volusi dalam mempengaruhi perkembangan Covid-19.

“Covid-19 adalah satu pandemi bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berdampak pada isu-isu global. Pandemi ini berefek bukan hanya pada bidang kesehatan, tetapi juga bidang ekonomi, sosial, budaya dan agama, serta politik”.

Terkait dengan organ tubuh yang diserang oleh Covid-19, Dr. Iqbal mengatakan bahwa Covid ini bersifat multi organ, jangan lagi berfikir bahwa hanya dapat menyerang paru-paru, tetapi menyerang seluruh organ, dari paru-paru, jantung, hati, ginjal, otak, saluran pencernaan, mata dan sendi pada tubuh.

Dr. Iqbal menjelaskan gejala yang muncul sangat bervariasi, jangan lagi berfikir hanya gejala seperti batuk dan flu, karena ini adalah gejala umum, tetapi ada yang datang dengan keluhan lemah badan, capek tulang belakang, bahkan banyak pederita sekitar 40% yang tidak mengalami.

Dalam penanganan Covid-19, Indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia, Philipine, India dan Bangladesh. Hal ini terjadi karena alasan keterbatasan kapasitas dan fasilitas, infodemik, strategik dan garis komando. Di awal pandemi kita menganggap sepele dan underestimate, serta big data managemen dan fasilitas yang tidak baik, sehingga sulit untuk memprediksi kapan data Covid-19 ini akan melandai.  Hal lain yang membuat terlambat dalam penangan covid ini adalah karena melakukan strategik yang keliru, yang hingga saat ini menggunakan rapid tes secara luas, padahal rapid tes memiliki sensitivitas yang sangat rendah yaitu hanya 30%.

New Normal hanya bisa dilakukan bila sudah terjadi penurunan yang signifikan dari jumlah kasus baru, minimal 2 inkubasi priode. WHO menyarankan pembukaan New Normal apabila setelah 14 hari dari penemuan kasus, terjadi penurunan sebesar 30-40% kasus baru. Dan di Indonesia tidak menerapkan hal tersebut.

Di Qatar sangat disiplin dan hanya satu komando yang dilakukan oleh Menistri of Publick Health dan tidak ada yang berani melawan, jika ada yang melawan maka akan ditangkap. Ini yang membedakan dengan yang terjadi di Indonesia.

Di akhir, Dr. Iqbal berharap kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan infodemik yang belum jelas kebenarannya, sehingga Covid-19 ini segara dapat ditangani.